Perjuangan dalam keterasingan

Unknown Reply 20.44

Haruskah perjuangan ditempuh dengan cara yang sama?. Bukankah banyak cara untuk mencapai suatu tujuan yang sama?. Saya hanya mahasiswa biasa dengan segala kekurangan. Tidak jarang kolega seperjuanganku dalam organisasi mencibir prinsip dan pikiranku dalam memecahkan problem. ya, karena saya seringkali berbeda pendapat dan cara dari kebanyakan teman organisasiku. perbedaan ini saya anggap sebagai rahmat dan kelumrahan. meski tidak jarang diantara mereka yang gagap menanggapi perbedaan tersebut.

sebagai orang pesantren saya biasa dihadapkan dengan beragam perbedaan dari faham dan lingkungan keagamaan saya berkembang. Sejak kecil doktrinasi fiqih 4 madzhab telah ikut serta mengkonstruk pikiran saya mengenai keberagaman. Tradisi berbeda pendapat dan cara dalam mengembangkan organisasi adalah sunatulloh bahkan wajib hukumnya untuk mengisi sektor-sektor penting dalam pengembangan organ. perlu adanya sebuah kesedaran kolektif diantara banyak kepala. bahwa untuk berjuang mengembangkan organ kita harus berbeda cara dan strategi selagi tidak keluar dari norma ideologi dan AD/ART organisasi.

Strategi perjuangan pengembangan organisasi yang saya tempuh, dinilai asing bahkan diasingkan oleh mereka yang gagap memahami perbedaan. kontekstualisasi pengambilan kebijakan juga saya lakukan meski harus melawan kerasnya tradisi yang dianggap menjadi harga mati. Pada ahirnya konsekuensi dari corak perjuangan saya harus terbayar mahal dengan sikap cibiran dan mengasingkan saya sebagai oknum organisasi baik secara pikiran dan tindakan.

kita mengingat sosok Tan Malaka sebagai pribadi yang keras secara prinsip dalam memperjuangkan idealisme dan kebenaran yang ia yakini. meski konsistensinya dalam kebenaran harus terbayar dengan dimusuhinya oleh kelompok imperial dan elite penguasa dalam negeri.

Sebagai manusia yang diberkahi pikiran dan potensi diri kita harus bersyukur. rasa syukur ini saya luapkan dalam tulisan. pengungkapan gagasan dengan karya tulis masih saya yakini sebagai jalan yang jitu untuk membumikan gagasan kita. selain itu , sejarah akan mencatat pemikiran kita yang terbukukan meski jasad kita telah tiada.

Soe Hok Gie, Ahmad Wahib adalah sebagian kecil manusia yang terasingkan namun terkenang oleh sejarah berkat buah tulisnya. Sosok Gus Dur juga menjadi idola saya bagaimana menyikapi perbedaan dan konsistensi kontribusi pemikiran yang progressif. betapa sangat lama tradisi intelektualitas kita terhenti, lantas kini kita kehilanfan kiblat dalam refrensi dan tradisi literatur yang hari ini tekutat pada barat.

Sikap saling menghormati dan berdialog adalah cara paling jitu agar kita tidak salah presepsi dalam menilai orang maupun kelompok. Bukankah islam telah mewarisi tradisi syuro' agar kita dapat berdealiktika secara sehat dan terbuka. namun lagi-lagi setu orang yang sadar harus rela mundur oleh ratusan orang fanatik.

wa ba'du, kita harus membuka kembali maqosid syari'ah kita agar tidak dengan muda menghakimi dan menilai buruk seseorang hanya karena ia berbeda.

Posting Komentar

Search

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut