Memoar

Unknown Reply 04.32



“K

ala nanti malam, Kau bertemu Tuhan.
Tolong tanyakan padanya. Apakah Adam diciptakan untuk memeperkosa Hawa?”
Brak..!!
Buku itu dilemparnya jauh-jauh, sejauh ia berlari dari kenangan-kenangan yang memburu.
Pikiranya kacau, psikologisnya terguncang saat membaca bait demi bait kumpulan puisi Rieke Diah Pitaloka. Renungan Kloset, buku itu ia dapat dari tukang buku loakan langgananya tiga tahun silam, sebelum ia keluar sebagai seorang sarjana terbaik Universitas Indonesia. kali ini ia sial, maksud hati membaca untuk mengenang keberhasilan. Buku itu malah kembali membuka memoar kelam dalam hidupnya yang lama ingin ia buang ke laut lepas.

***
1998
Kala itu Dini hanyalah satu diantara mahasiswi yang melawan kerasnya pergaulan hidup kota Jakarta. Gadis polos dari desa, menuntut ilmu di Universitas tersohor di ibu kota. Perjumpaanya dengan Fian seorang senior di Fakultas Sastra telah mewarnai hari-hari Dini. Sejak itu ia semakin rajin berangkat kuliah, tentu dengan harapan dapat berjumpa Fian disela-sela kesibukan kuliah. Semakin hari rasa itu tumbuh subur diantara Dini dan Fian, mereka saling jatuh cinta bak tokoh Romeo Juliete Shakespear. Hari-hari sering mereka habiskan dengan canda tawa dan saling mengagumi satu sama lain. Ditengah hiruk pikuk kesibukan perkuliahan, dua insan yang jatuh cinta mampu mencuri waktu meski hanya bersua untuk saling sapa.

Sampai malam itu tiba, Dini dengan kepolosanya telah dengan mudah mempercayai Fian kekasih baru yang ia kenal tempo hari. Fian pria kelahiran Jakarta yang sudah terbiasa hidup ditengah kebebasan pergaulan ibu kota dengan mudah menjerat Dini dalam perangkap asmara dan birahi yang membabi buta. Satu tahun penuh mereka jalani dengan letupan-letupan asmara yang bergejolak menghiasi keseharian dua insan yang dimabuk cinta.
“Din, tahun ini abang wisuda,”
“iya, bang selamat ya. Tapi abang sabarkan menunggu sampai Dini sarjana,” ucap Dini bahagia dan melepas peluk hangat kepada kasihnya.
“iya sayang, abang tunggu Dini sampai selesai lalu kita menikah dan hidup bersama,” jawab Fian dengan lembut sembari mencium kening kekasihnya yang polos.
Setelah Fian menyandang gelar sarjana, ia bekerja pada perusahaan milik ayahnya. Pada bulan pertama selepas mereka terpisah, Fian masih intens memberi kabar pada Dini melalui surat, sesekali menelvon. Namun semuanya berubah ketika menginjak bulan kelima. Fian seakan hilang tertelan bumi, tak pernah sekalipun memberi kabar lewat surat maupun telefon. Sontak Dini terpuruk dan sedih merasa tertipu setelah semua yang ia miliki telah diberikan kepada kekasihnya, tak terkecuali kehormatanya sebagai wanita.

Masa-masa itu adalah masa terberat yang Dini lewati. Ia sangat terpuruk, hanya bisa meringkuk di losmen tempat tinggalnya. Dini merasa masa depanya hancur dan gairah belajarnya telah hilang sama sekali. Sempat terbesit dalam pikiranya untuk kedokter dan meminta agar dikebiri hingga naluri birahinya hilang kepada kaum Adam. Psikologisnya terguncang hebat, ia tidak mempercayai pria siapapun itu bahkan dosen dan ayah kandungnya sekalipu. Sampai akhrinya Fifi hadir bak malaikat yang diutus tuhan untuk Dini. Disaat kejatuhan Dini ia berjuang keras, dengan senang hati mendengarkan curahan hati dan sedikit demi sedikit membangun kembali semangat dan mengembalikan kembali  keceriaan Dini yang lama hilang.
***
2000
“ Renungan Kloset.
Ada baiknya,
Tak mencatat hidup dalam lembar-lembar buku harian
Suatu masa,
Jika membacanya lagi
Manis, membuat kita ingin kembali
Pahit, membuat duka tak bisa lupa
Ada baiknya,
Merenung hidup dalam kloset yang sepi
Tak perlu malu mengenang, tersenyum atau menangis
Setelah itu,
Siram semua, bersiap menerima makanan baru yang lebih baik dari kemarin.”

Tepuk tangan menggemuruh dari bilik tribun. Ribuan orang bertepuk tangan terkesima atas pidato yang diahiri puisi indah karya Rieke Diah Pitaloka, disampaikan seorang sarjanawati muda. Dini-lah orang tersebut, sebagai wisudawati terbaik dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Namanya dibicarakan baik oleh koleganya maupun media masa. Selepas pidato Dini langsung turun dari podium lalu menghambur kearah teman-teman angkatanya duduk berbaris di tribun pojok ruang wisuda.

“Din, selamat ya,” ucap Fifi sahabat dekat sekaligus teman seangkatan di Jurusan Sastra Indonesia.
 “Iya Fi, thanks a lot,” Dini melemparkan senyum haru dengan mata berkaca-kaca kepada sahabatnya.
“Pidatomu luar biasa, apalagi puisi yang kau bacakan it’s so amazing,”
“Ah, kau Fi. Ini semua karena jasa besarmu sahabat,” canda Dini diukuti gelak tawa kebahagiaan bersamaan.
***
Kini, Dini adalah seorang wanita karir yang bekerja pada penerbitan besar di Indonesia. kelulusanya sebagai wisudawan terbaik dari Universitas Indonesia, dengan IPK yang tinggi menjadikan beberapa perusahaan besar di Jakarta meliriknya. Sayang kecerdasan dan naluri kebebasanya hanya sebatas angan, karena ia harus rela menjadi pegawai di industri penerbitan. Meski dengan posisi strategis dan gaji tinggi tetap saja statusnya adalah buruh industri.

Orang memandangnya sebagai wanita karir yang cerdas dan kaya raya. Siapa sangka dibalik kesuksesan yang ia raih, tersimpan luka dalam yang setiap saat hadir menghantui setiap gerak pikir dan aktivitasnya. Sampai pada usia 35 tahun, Dini belum juga menikah. Hidupnya dihabiskan untuk bekerja dan berkarya. Dua hal itu telah menjadi nafas kehidupan sekaligus teman sejati dalam menuangakan pikiran dan curahan hati, setelah sahabatnya Fifi pergi mendahului menghadap sang ilahi.


Novel-novel karya Dini laris di pasaran, selain kekuatan bahasa yang indah Dini seolah menghadirkan tokoh-tokoh nyata dibenak pembaca setia bukunya. Entah sampai kapan kepercayaanya terhadap kaum adam akan kembali dan bersedia membuka hati yang lama mati. Ia tidak pernah memikirkan hal itu, seperti kloset ia telah menyiram kotoran dalam kehidupanya namun tidak dengan sisa kotoran yang menempel bak kebencian yang mengumpal menjadi batu. Sekali lagi Dini hanyalah penulis dengan paras cantik dikelilingi harta dan sederet kesuksesan lainya. Ia bukan Nelson Mandela yang berhati baja, ia hanya seorang gadis biasa yang pernah hancur karena pria.

Related Posts

cerpen 7164484907621030733

Posting Komentar

Search

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut